Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Bayi Menolak Menyusu

Bayi Menolak Menyusu

Bayi Menolak Menyusu. Penolakan adalah alasan umum untuk berhenti menyusui. Akan tetapi, alasan tersebut tak perlu menyebabkan penyapihan total, dan seringkali dapat teratasi. Ibu mungkin akan merasa ditolak dan frustasi dengan pengalaman tersebut.

Ada beberapa jenis penolakan:

  • Kadang bayi melekat pada payudara, tapi tidak menyusu atau menelan, atau menyusu sangat lemah.
  • Kadang bayi menangis dan meronta-ronta di payudara, ketika ibu berusaha menyusuinya.
  • Kadang bayi menyusu semenit dan kemudian melepas payudara seperti tersedak atau menangis. Ia mungkin bertingkah begini beberapa kali selama satu kali penyusuan.
  • Kadang bayi menyusu pada satu payudara, tapi menolak payudara sebelahnya.

Mengapa Bayi Menolak Menyusu?

Hal yang pertama perlu dilihat adalah apakah bayi sakit, kesakitan, atau dibawah pengaruh obat.

Pada bayi yang sakit, biasanya bayi melekat pada payudara, tapi menyusu lebih sedikit dibanding sebelumnya.

Pada bayi yang sedang kesakitan, misalnya pasca persalinan yang traumatis (misal dengan bantuan alat), atau hidung tersumbat, mulut yang nyeri akibat jamur, tumbuh gigi. Biasanya bayi menyusu beberapa kali, dan kemudian berhenti lalu menangis.

Pada bayi dibawah pengaruh obat, biasanya bayi akan telihat selalu mengantuk. Bisa karena pengaruh obat yang diberikan pada ibu selama persalinan atau untuk perawatan psikiatri.

Selain hal tersebut, kesulitan yang terjadi pada teknik menyusui juga dapat menjadi penyebab bayi menolak menyusu.

Kadang menyusu jadi tidak menyenangkan atau membuat bayi frustasi:

Kemungkinan penyebabnya adalah:

  • Menyusu dari botol, atau mengisap empeng.
  • Tidak mendapat cukup asi, karena perlekatan kurang baik atau payudara bengkak.
  • Tekanan di belakang kepala bayi, oleh ibunya atau orang yang membantu mengatur posisinya secara kasar, dengan teknik yang buruk. Tekanan ini membuat bayi ingin ‘melawan’.
  • Ibu memegang atau mengguncang payudara, yang mengganggu perlekatan.
  • Pembatasan menyusui, misal dijadwalkan hanya pada waktu tertentu saja.
  • Terlalu banyak asi yang keluar terlalu cepat, karena pasokan yang berlebih. Bayi mungkin mengisap semenit, dan kemudian melepaskan payudara karena tersedak atau menangis, ketika refleks pengaliran asi bekerja. Ibu mungkin memperhatikan asi memancar keluar ketika bayi melepaskan payudara.
  • Kesulitan koordinasi menyusu sejak dini (sebagian bayi perlu waktu lebih lama di banding bayi lainnya dalam hal belajar menyusu secara efektif).

Bayi juga mungkin menolak menyusu karena ada perubahan-perubahan yang membingungkan bayi.

Bayi memiliki perasaan yang sangat kuat, dan jika mereka bingung mereka mungkin menolak menyusu. Mereka mungkin tidak menangis, melainkan hanya menolak menyusu.

Hal ini paling umum ketika bayi berusia 3-12 bulan. Mendadak saja ia menolak menyusu beberapa kesempatan menyusu. Perilaku ini kadang disebut ‘mogok menyusu’ (nursing strike).

Kemungkinan penyebab:

  • Berpisah dari ibunya, misalnya saat ibu mulai bekerja lagi.
  • Pengasuh baru, atau terlalu banyak pengasuh.
  • Perubahan rutinitas keluarga, misal pindah rumah.
  • Penyakit ibunya, atau infeksi payudara.
  • Ibunya sedang menstruasi.
  • Perubahan bau badan ibunya, misal ganti sabun atau makan makanan yang berbeda.

Jika bayi menolak menyusu, maka yang harus dilakukan adalah cari penyebabnya terlebih dahulu.

  • Atasi atau hilangkan penyebabnya bila mungkin.
  • Berusaha untuk menyukai kegiatan menyusui kembali.

Poin kedua bisa jadi sulit dan menjadi sebuah kerja keras. Kita tidak bisa memaksa bayi menyusu. Jika perlu, ibu mencari bantuan untuk kembali merasa bahagia dengan bayinya dan menikmati kegiatan menyusui.

  • Ibu sebaiknya selalu bersama bayi, tanpa pengasuh lainnya. Kontak kulit dengan bayi setiap waktu, walaupn tidak saat menyusui.
  • Ibu juga memberikan payudara kapan pun bayi ingin menyusui dan tidak diberi jadwal tertentu.
  • Hindari penggunaan botol, dot, dan empeng. Gunakan cangkir jika diperlukan.

Post a Comment for "Bayi Menolak Menyusu"