Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Penggunaan Sel Telur Beku Turunkan Angka Kelahiran Hidup Bayi Tabung

Penggunaan Sel Telur Beku Turunkan Angka Kelahiran Hidup Bayi Tabung

Dibandingkan menggunakan sel telur 'segar', penggunaan sel telur beku dalam proses bayi tabung disinyalir sebagai penyebab rendahnya angka kelahiran hidup, demikian hasil satu penelitian yang dimuat di dalam Journal of the American Medical Association.

Penggunaan donor sel telur telah meningkat akhir-akhir ini. Pada umumnya, beberapa oosit (sel telur) segar yang diperoleh akan langsung diproses untuk pembuahan dan terbentuklah embrio; embrio yang berkembang tsb nantinya akan ditanamkan kembali dalam rahim sementara sisa embrio lainnya akan disimpan dengan cara dibekukan.

Namun, pada Januari 2013 American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menyatakan bahwa teknik pembekuan oosit (sel telur) telah dimungkinkan dan memiliki angka keberhasilan yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan pembuahan pada oosit segar.

ASRM juga menyerukan penyediaan data klinis yang lebih spesifik dan meluas demi keamanan dan keberhasilan penggunaan sel telur yang dibekukan sebelum program donor sel telur (oosit) direkomendasikan.

Menurut data, keberhasilan bayi tabung yang menggunakan sel telur segar dan beku adalah sebanding, karena itu beberapa klinik bayi tabung punya bank sel telur. Meskipun demikian, keberhasilan klinis fertilisasi sel telur yang diawetkan hingga kini masih belum pernah dipublikasikan.

Vitaly A. Kushnir, M.D., salah seorang peneliti dari Center for Human Reproduction, New York dan koleganya menggunakan data Pusat Bayi Tabung Amerika Serikat tahun 2013 untuk membandingkan keberhasilan antara penggunaan sel telur segar dengan yang dibekukan.

Dari 11.148 siklus donor, sebanyak 2.227 atau 20% menggunakan sel yang dibekukan. Kegagalan di awal siklus 12% untuk sel telur segar vs 8,5% untuk sel telur beku. Angka kelahiran hidup per siklus awal penerima 50% sel telur segar vs 43% sel telur beku. Angka kelahiran hidup per transfer embrio 56% sel telur segar vs 47% sel telur beku.

Peneliti mengatakan, alasan angka kelahiran hidup yang rendah dari sel telur beku mungkin karena kurangnya kesempatan untuk seleksi embrio yang tepat karena jumlah deposit awal yang kecil. Atau, kualitas sel telur turun karena proses pembekuan dan pencairan.

Para peneliti juga mencatat bahwa temuan ini harus disikapi dengan hati-hati, karena data yang diolah berasal dari hasil agregrat anonim, seperti tidak diketahui berapa usia donor dan penerima, diagnosis infertilitas dan tahap embrio.

Post a Comment for "Penggunaan Sel Telur Beku Turunkan Angka Kelahiran Hidup Bayi Tabung"