Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Pengertian Bayi Tabung dan Prosesnya

Pengertian Bayi Tabung dan Prosesnya

Pengertian Bayi Tabung dan Prosesnya. Pentingnya Menjaga Kondisi Psikis Calon Ibu Yang Akan Menjalani Program Bayi Tabung

Program bayi tabung sering sekali dipilih oleh para pasangan yang ingin memiliki keturunan namun sulit mendapatkan kehamilan yang mana dikarenakan beberapa masalah infertilitas (kesuburan) sehingga membuat pasangan wanita sulit untuk hamil.

Maka dari itu program bayi tabung inilah yang menjadi salah satu cara alternatif untuk membantu para pasangan yang sulit mendapatkan kehamilan

keberhasilan program bayi tabung tidak hanya dipengaruhi oleh metode bayi tabung yang digunakan namun juga ada beberapa hal seperti masalah infertilitas, kesehatan terutama usia. Semakin tua usia wanita maka keberhasilan juga semakin rendah. Idealnya melakukan program bayi tabung adalah usia 35 tahun.

Survei mengatakan, pasien yang sedang menjalani program bayi tabung mengalami stres yang sama besarnya dengan hal-hal besar kehidupan lainnya, seperti kematian atau perceraian. Tekanan semacam ini seringkali disebabkan oleh keadaan awal dari calon Ibu saat sebelum menjalani program ini.

Kondisi psikologis berdampak ganda. Banyak penelitian mengatakan bahwa rendahnya kesuburan, atau infertility, bersumber dari stres. Setidaknya satu dari tiga kasus ketidaksuburan pada wanita disebabkan oleh stres, 10% kasus ketidaksuburan pada pria disebabkan oleh stres, sedangkan sisanya, sebanyak 10-20% ketidaksuburan disebabkan oleh faktor lainnya.

Tapi sementara kondisi psikis berdampak besar pada ketidaksuburan, pasien yang telah dinyatakan tidak subur mengalami tekanan yang lebih besar lagi. Satu studi menyatakan bahwa paling tidak 50% wanita dan 15% pria menyatakan bahwa diagnosa ketidaksuburan mereka merupakan hal yang paling mengecewakan yang pernah mereka alami.

Studi lain yang diikuti oleh 488 wanita Amerika mengatakan, diagnosa ketidaksuburan memiliki peringkat yang sama beratnya dengan diagnosa penyakit berbahaya, seperti kanker, hipertensi, atau penyakit jantung.

Oleh sebab itu, penting untuk calon Ibu yang akan menjalani program bayi tabung untuk menjaga kondisi psikologis mereka, karena hal ini berdampak pada kondisi kesuburannya pada masa, sebelum, saat, dan sesudah menjalani program bayi tabung - terlepas dari sukses atau tidaknya program tersebut.

Alice Domar, Ph.D, Executive Director dari Domar Centre for Mind/Body Health mengatakan, “penyebab utama pasangan keluar dari program bayi tabung adalah faktor psikologis, sehingga apapun yang bisa mereka lakukan untuk mengurangi faktor tersebut akan membantu mereka untuk terus melanjutkan program ini dan meningkatkan kemungkinan keberhasilan program”.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi stres saat akan menjalani program bayi tabung. Perencanaan yang matang, komunikasi yang baik dengan pasangan menjadi dua kunci utama dalam mengatasi permasalahan psikologis ini.

Seringkali, pasangan menjalani sesi terapi khusus untuk menekan faktor psikologis yang mungkin terjadi. Dukungan dari orang-orang terdekat juga dapat membantu mengurangi stres.

Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Bayi Tabung

Bayi tabung menjadi alternatif terakhir untuk pasangan suami istri yang memiliki masalah dalam memperoleh keturunan, tetapi tetap ingin memiliki anak. Walaupun proses ini memerlukan biaya yang besar dan cukup menyiksa, akan tetapi bayi tabung tetap diminati banyak orang.

Program pembuahan bayi tabung memang membawa harapan bagi pasangan suami istri yang sulit mendapatkan keturunan. Namun, tak semua orang paham mengenai bayi tabung sendiri dan bagaimana caranya agar program tersebut mengalami keberhasilan yang memuaskan.

Istilah bayi tabung itu sendiri mengacu pada proses pembuahan sel telur dengan sperma yang terjadi di luar tubuh wanita. Pada proses ini akan memiliki dampak psikologis yang cukup menggangu bagi pasangan, seperti stres dan depresi. Selain itu, ibu juga akan mengalami sakit perut, mood swing, sakit kepala, perut serta memar akibat mendapatkan suntikan beberapa kali. Namun, ibu tetap dapat melakukan kegiatan dengan normal seperti biasanya.

Lalu, bagaimana caranya agar program bayi tabung dapat berhasil? Tingkat keberhasilan bayi tabung tergantung pada beberapa faktor, seperti :

  1. Riwayat reproduksi
  2. Usia ibu
  3. Penyebab infertilitas
  4. Gaya hidup

Pada beberapa kasus, program bayi tabung mungkin tidak berjalan dengan baik atau sesuai dengan harapan. Selain itu, perlu Anda ketahui bahwa tingkat keberhasilan kehamilan tidak sama dengan tingkat kelahiran hidup bayi melalui program tersebut- yang justru merupakan poin penting dalam program bayi tabung tersebut-.

Berdasarkan data klinis yang dihimpun di Amerika Serikat, tingkat kelahiran hidup bayi tabung menurut usia Ibu adalah sebagai berikut :

  1. Wanita dibawah usia 35 tahun memiliki keberhasilan sekitar 41-43%
  2. Wanita berusia 35-37 memiliki tingkat keberhasilan sekitar 33-36%
  3. Wanita usia 38-40 tahun memiliki keberhasilan sekitar 23-27%
  4. Wanita usia di atas 40 tahun memiliki tingkat keberhasilan 13-18%

Dari data di atas, terlihat bahwa semakin lanjut usia sang Ibu, maka semakin kecil pula tingkat kelahiran hidup bayi tabung.

Selain usia, faktor lainnya yang turut menentukan keberhasilan program bayi tabung adalah kondisi sel telur dan sperma. Apabila sel telur dan sperma dalam kondisi sehat, tentunya rasio keberhasilannya akan semakin tinggi juga.

Namun, jika sel telur dan sperma tidak sehat Anda dapat melakukan donor sel telur, sperma atau embrio. Akan tetapi, hukum dan budaya masyarakt di Indonesia tidak memungkinkan untuk menerapkan donor sel telur atau sperma.

Asupan Makanan Sehat Bagi Calon Ibu Yang Akan Menjalani Program Bayi Tabung

Ketika akan menjalani program bayi tabung, beberapa persiapan harus dilakukan oleh pasutri. Hal ini layaknya mempersiapkan lahan agar menjadi ideal untuk ditanami.

Salah satu persiapan dasar bagi calon Ibu sebelum menjalani program bayi tabung adalah dengan mengonsumsi asupan makanan sehat yang mendukung fertilitas sehingga pemenuhan nutrisi penting untuk fase awal perkembangan janin terjamin.

Berikut adalah beberapa jenis makanan pendukung fertilitas yang mengandung berbagai jenis mikronutrien yang sangat baik untuk dikonsumsi untuk mempersiapkan program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF):

Buah-buahan
Selain sebagai sumber alami antioksidan yang sangat baik, buah-buahan juga mengandung vitamin C dan Flavonoid. Buah-buahan yang kadar antioksidan-nya paling tinggi antara lain: delima, stroberi, blueberry, dan plum.

Telur
Telur merupakan sumber protein yang juga mengandung vitamin D dan B12.

Kacang-kacangan dan Biji-bijian
Berbagai jenis kacang dan biji-bijian merupakan sumber nutrisi yang sangat baik karena mengandung Omega 3, zat besi, vitamin E, dan protein.

Daging Sapi Organik
Daging sapi organik kaya akan Omega 3, zat besi, vitamin B12, dan protein. Daging sapi organik lebih disarankan dibanding daging sapi biasa, karena pola konsumsi natural dari sapi tersebut membuat dagingnya mengandung lebih sedikit lemak dan Omega 3 lebih tinggi, dibandingkan daging sapi non-organik. Sapi non-organik juga umumnya dibesarkan dengan hormon dan diberi antibiotik.

Sayuran Berdaun dan Berwarna Gelap
Contoh dari sayuran jenis ini adalah bayam, kale, dan sawi. Sayuran-sayuran ini mengandung zat besi, asam folat, vitamin B6, dan vitamin E.

Ikan dan Kerang
Ikan dan kerang adalah jenis makanan yang paling padat nutrisi yang dapat dikonsumsi. Ikan kaya akan asam lemak, vitamin D, zat besi, vitamin B12, selenium, dan CoQ10.

Hati Ayam
Hati ayam kaya akan vitamin D, zat besi, asam folat, dan vitamin B12.

Bolehkah Wanita Yang Memiliki Riwayat Penyakit Kronis Menjalani Program Bayi Tabung?

Bagi pasutri yang sedang berusaha memiliki momongan, program bayi tabung bisa menjadi alternatif pilihan. Peluang keberhasilan bayi tabung dapat ditentukan dari umur calon Ibu, semakin muda maka peluang keberhasilan semakin besar. Namun bagaimana bila calon Ibu memiliki riwayat penyakit kronis? Amankah program bayi tabung dan adakah pengaruhnya pada kesehatan calon janin?

Penyakit yang tergolong kronis seperti diabetes, hipertensi dan kondisi pada kelenjar tiroid dapat mempengaruhi kondisi kesuburan. Diabetes dan kondisi hipotiroid dapat menyebabkan penderitanya menjadi infertil. Obat-obatan yang dikonsumsi juga dapat menyebabkan adanya masalah dengan produksi sperma serta kemampuan sperma untuk membuahi sel telur.

Penyakit kronis pada calon Ibu misalnya seperti, kista atau kelainan tertentu pada organ reproduksi memiliki kesempatan lebih besar untuk memiliki anak dengan program bayi tabung, dibandingkan melalui hubungan intim. Semakin buruk penyakitnya maka semakin berpengaruh terhadap keberhasilan bayi tabung.

Untuk itu, pasangan perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis tentang penyakit yang diderita dan dokter kandungan. Jika status penyakit tersebut sudah dinyatakan sembuh total, lalu jika hamil dan kehamilannya tidak berpengaruh terhadap penyakitnya, maka tentunya diperbolehkan.

Keadaan calon bayi akan tetap berisiko jika calon Ibu melalui program bayi tabung ataupun hamil melalui hubungan intim. Jika penyakit kronis yang diidap adalah penyakit menurun, maka janin di dalam kandungan kemungkinan akan mengidap penyakit yang sama. Untuk mengetahui hal ini diperlukan tes uji DNA terlebih dahulu, sehingga pasutri dapat mengetahui kemungkinan penyakit kronis akan menurun pada janin atau tidak.

Jangan berkecil hati jika pasutri belum memiliki momongan. Lebih baik pasutri meminta saran atau pendapat dari dokter untuk menentukan penyebabnya dan memilih jalan keluar yang terbaik.

Post a Comment for "Pengertian Bayi Tabung dan Prosesnya"