Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Memaksimalkan Keberhasilan Implantasi Dengan 6 Langkah Ini

Memaksimalkan Keberhasilan Implantasi Dengan 6 Langkah Ini

Jika proses IVF yang menggunakan embrio segar mengalami kegagalan, penggunaan embrio beku adalah sesuatu yang lazim ditempuh.

Sebenarnya embrio beku berasal dari prosedur IVF yang pertama kali Anda lakukan. Dokter mengambil beberapa sel telur untuk dibuahi, memasukkan satu atau dua hasilnya ke dalam rahim, sisanya dibekukan dan kita menamainya embrio beku.

Embrio beku dapat tetap beku hingga 10 tahun. Kelangsungan hidup embrio beku sangat tergantung pada teknik pembekuan dan kualitas embrio itu sendiri. Dengan kata lain, pasien hanya memiliki sedikit kontrol terhadap kelangsungan hidup embrio.

Namun, sedikit kontrol itu bukan berarti pasien hanya bisa pasrah. Ada hal-hal yang bisa dilakukan untuk membantu mengoptimalkan peluang untuk hamil.

Noel Peng, MD, F.A.C.O.G, pakar dari IVF Institute di Dallas, Texas, menyarankan pasien menciptakan lingkungan yang optimal untuk implantasi embrio dan menjaga kesehatan secara maksimal.

"Satu hal yang positif dari menggunakan embrio beku adalah risiko aneuploidi (perubahan penggandaan kromosom) terkunci pada usia saat embrio dibekukan.

Namun, peningkatan risiko tekanan darah tinggi, diabetes, dan fibroid pada wanita dewasa dapat mempengaruhi hasil akhir, "katanya. Kondisi kesehatan calon ibu tidak hanya akan mengurangi tingkat keberhasilan tetapi juga dapat meningkatkan risiko keguguran.

Selain itu, karena usia juga memengaruhi kesuburan, jika pasien ingin mencoba implantasi dengan embrio beku, sebaiknya hal itu dilakukan dengan segera sebelum usia makin bertambah.

Inilah hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk membantu keberhasilan implantasi :

1. Maksimalkan derajat kesehatan Anda. Olahraga teratur, pemeriksaan kandungan rutin, lakukan pemeriksaan kesuburan sebelum siklus transfer embrio beku, plus konsumsi vitamin dan mineral termasuk asam folat. Stop merokok dan batasi konsumsi alkohol atau tidak konsumsi sama sekali.

2. Awas terhadap perkembangan kondisi kesehatan. Gangguan darah tinggi dan diabetes dapat memburuk saat hamil dan membahayakan janin. Monitor tekanan darah dan kadar gula dengan teratur.

3. Pahami bagaimana usia dan diagnosa kesehatan dapat memengaruhi tingkat keberhasilan IVF. Ada banyak faktor lain yang memengaruhi tingkat keberhasilan kehamilan dan kelahiran, misalnya indeks massa tubuh (BMI) dan kondisi kesuburan (hormon, sel telur, sperma) adalah beberapa contohnya.

4. Konsultasi dengan dokter untuk menilai secara realistis kualitas embrio beku yang Anda miliki. Embrio yang dibekukan dengan teknik slow-freeze memiliki risiko gugur yang lebih besar selama proses pencairan.

Embrio yang dibekukan dengan metode vitrifikasi dapat lebih bertahan selama proses pencairan. Kualitas embrio yang baik akan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi juga.

5. Sebelum pasien menjalani transfer embrio beku, Dr. Peng menyarankan pasien memeriksa kadar hormon untuk memastikan semuanya seimbang, lakukan deteksi penyakit tiroid, dan periksa rongga rahim terutama jika pasien pernah hamil melahirkan dengan cara Caesar. Jaringan parut dapat memengaruhi rahim dan membuat embrio sulit melekat pada dinding rahim.

6. Pasien yang khawatir terhadap keabnormalan kromosom atau gagal dalam proses implan embrio beku sebelumnya, disarankan untuk membicarakan kemungkinan melakukan pemerikaan genetik sebelum implantasi atau preimplantation genetic screening (PGS) dengan dokter.

Pertimbangkan baik buruknya. Menurut Dr. Peng, embrio beku yang sebelumnya dapat dibiopsi untuk mengetahui ada atau tidaknya ketidakseimbangan kromosom.

Post a Comment for "Memaksimalkan Keberhasilan Implantasi Dengan 6 Langkah Ini"